CV. BMI untuk Jadwal Pelatihan USG Anc & Abdomen 2018 - 2019



 PELATIHAN USG ANC-ABDOMEN
untuk Dokter Umum & Bidan


Pelatihan USG ANC-ABDOMEN DESEMBER 2018


Pelatihan USG ANC (Antenatal Care)
Adalah pelatihan usg yang diprioritaskan untuk Bidan dan Dokter umum, di dalam pelatihan semua peserta akan mendapatkan pengarahan dari Dokter Spesialis OBGYN yang sudah berpengalaman, setiap peserta akan mendapatkan materi yang lengkap serta jam praktek yang tinggi  yang diterapkan langsung kepada ibu-ibu hamil dengan berbagai usia kandungan mulai dari trimester 1, 2 dan 3, sehingga hanya dalam tempo 2 hari saja semua peserta akan mendapatkan keahlian dalam menggunakan usg secara tepat dan akurat.

Dua modul USG dasar:
1. USG Dasar kehamilan dini (8-12 minggu)
2. Penilaian USG dasar ukuran janin, cairan dan plasenta

Dan tiga modul USG menengah:
1. USG antara anatomi janin normal
2. USG menengah di ginekologi
3. USG antara komplikasi kehamilan awal
Dan setiap modul meliputi komponen teoritis dan praktis.

Ini sudah terbukti dengan para alumni kami yang sudah mempraktekannya secara mandiri dilapangan, dan hampir 99% peserta mengatakan puas dengan hasil yang telah diperoleh dalam pelatihan usg anc ini.

Pelatihan USG Abdomen
Adalah pelatihan usg yang di khususkan untuk Dokter umum, dalam pelatihan usg abdomen ini peserta pelatihan akan dibimbing langsung oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan yang akan didapatkan oleh setiap peserta yang mengikuti pelatihan usg abdomen ini merupakan pembahasan materi yang lengkap dan 90% praktek pada pasien, sehingga hanya dalam waktu singkat semua peserta akan memperoleh kemampuan menggunakan usg dalam mendiagnostik berbagai penyakit dalam, seperti:

1. Liver (hati)
2. Aorta dan vena abdomen
3. Apendiks (usus buntu)
4. Prostat
5. Bladder (kandung kemih)
6. Spleen (limpa)
7. Genitalia interna perempuan (rahim dan kedua indung telur)
8. Pancreas
9. Kedua ginjal
10. Kandung empedu (gall bladder)

Dan sesuai hasil survey yang telah kami lakukan dilapangan, membuktikan 99% semua peserta yang pernah mengikuti pelatihan usg abdomen yang kami adakan ini mengatakan puas dengan hasil di dapat dalam pelatihan usg abdomen ini.

Begitulah kurang lebih yang dapat kami sampaikan bagi para calon peserta yang akan mengikuti program pelatihan usg bersama kami.



Tag: 

pelatihan usg surabaya, pelatihan usg anc surabaya, pelatihan usg abdomen surabaya, pelatihan usg surabaya terbaru, pelatihan usg bidan surabaya, pelatihan usg dokter umum surabaya, pelatihan usg surabaya 2017, jadwal pelatihan usg surabaya, jadwal pelatihan usg surabya 2017, jadwal pelatihan usg surabaya terbaru, pelatihan kebidanan terbaru, pelatihan usg jogjakarta, pelatihan usg yogyakarta, pelatihan usg Abdomen jogjakarta, pelatihan usg abdomen yogyakarta, pelatihan usg anc jogjakarta, pelatihan anc yogyakarta, pelatihan usg bidan jogjakarta, pelatihan usg dokter umum jogjakarta, pelatihan kebidanan jogjakarta, pelatihan kebidanan yogyakarta, pelatihan dokter jogjakarta,

Sejarah kebidanan di Negara Indonesia


Sejarah kebidanan di Negara Indonesia


Sejarah kebidanan di Indonesia muncul secara tidak langsung melalui upaya mengurangi kematian akibat cacar yang dilakukan sekitar 1804, sejak Yenner di Inggris menemukan vaksin cacar tahun 1798.
Karena biaya untuk melakukan pencacaran dirasakan terlalu tinggi yang didatangkan dari negeri Belanda, kemudian membentuk Sekolah Dokter Jawa tahun 1851 dan pada saat itu ilmu kebidanan belum menjadi mata pelajaran dan setelah tahun 1889 oleh Straats, Obstetrikus Austria dan Masland, Ilmu Kebidanan diberikan secara sukarela. Jika dibandingkan dengan angka kematian akibat cacar, angka kematian ibu bersalin sebenarnya jauh lebih tinggi. Pada saat itu pemerintah Belanda kurang memperhatikan tingginya angka kematian ibu karena tidak mempengaruhi terhadap kehadiran Belanda selaku penjajah.
Dengan banyaknya opini yang disajikan tentang bagaimana pentingnya membuka kursus kebidanan guna meringankan penderitaan masyarakat pribumi selama proses kelahiran, pada tahun 1850 maka dibukalah kursus kebidanan di bawah bimbingan seorang bidan dari Belanda (VOC). Sejak tahun 1873 tercatat ada sekitar 37 bidan yang berdomisili di kota yang hanya mau menolong persalinan orang Belanda dan orang Cina dan dikarenakan biaya kursus bidan dirasakan terlalu mahal maka Pemerintah Belanda menutupnya kembali.
PPendidikan bidan dibuka kembali tahun 1897 di bawah arahan Prof. Boerma, pertama Guru besar di Batavia. Prof. Remmeltz melaporkan bahwa angka kematian ibu 1.600/100,000 persalinan hidup dan angka kematian bayi sekitar 30% dari kelahiran sebelum mencapai usia 1 tahun. Penderitaan masyarakat Indonesia akibat persalinan benar-benar memilukan hati, sehingga mengundang kepedulian pihak swasta untuk ikut membuka sekolah kebidanan, seperti misi Katolik 1890 di Tjideres Jawa Barat dan Pearaja di Sumatra Utara. Pada tahun 1920 di Jakarta dr. Piverelli mendirikan semacam biro konsultasi ibu dan anak yang bernama: Consultatie Bureau Vorr Moeder en kind.
Di Jawa Barat biro konsultasi semacam itu dipelopori oleh dr. Poerwosoewardjo dan Dr. Soemeroe dengan mengikutsertakan dukun beranak (Paraji). Inilah yang merupakan cikal bakal pendidikan dukun beranak, sehingga lebih mampu memberikan pertolongan bersalin. Sampai tahun 1938 tercatat sekitar 376 bidan di seluruh Indonesia, suatu jumlah yang sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang memerlukan bantuan bidan dan pada saat itu pemerintahpun tidak dapat menyalahkan jika masyarakat sudah terbiasa dengan bantuan dukun beranak dengan berbagai akibatnya.
Siswa pendidikan bidan diambil dari tenaga para juru rawat yang telah bekerja selama tiga tahun untuk mcndapat pendidikan selama dua tahun dan ditetapkan menjadi "pcmbantu bidan". Kongres Verenigitig Van Geneeskundingen di Semarang 1938 dengan tegas menolak bentuk "pembantu bidan" dan menghendaki didirikan- nya sekolah bidan.
Dokter M. Toha, setelah menamatkan pendidikan sebagai ahli kebidanan dan pe- nyakit kandungan ditempatkan di Cirebon mendapat kesempatan untuk men- gutarakan secara luas berbagai masalah yang dihadapi anak negeri dalam bidang pelayanan kebidanan yang sangat menyedihkan itu. Selanjutnya Prof. Remmeltz, meninjau rumah sakit Cirebon dan meluluskan permintaan mendirikan sekolah bidan untuk pertama kalinya. Sayang sekali, pecahnya Perang Dunia II telah menggagalkan usaha mendirikan sekolah bidan tersebut. Setelah kemerdekaan usaha sekolah bidan di Cirebon dilanjutkan oleh: Dr. Soetomo Joedosepoetro. Ketika Dok ter Mohamad Toha mendapat tugas baru untuk memimpin Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran cabang Universitas Indonesia di Surabaya, beliau juga merintis mendirikan "Sekolah Bidan" di Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo Surabaya. Melalui kesempatan yang baik itu, beliau menarik dokter Soetomo Joedosepoetro dari Cirebon untuk membantu beliau dalam pendidikan dok ter di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Pada tahun 1948 Dr. H Sinaga di Tarutung telah mengeluarkan stensilan untuk pendidikan bidan. Dalam tahun yang sama Dr. S.A Goelam mengeluarkan buku (1) llmu Kebidanan I, bagian Fisiologi dan (2) llmu Kebidanan II, bagian Patologi. Pada tahun 1950 Dr. Mochtar dan Dr. Soeliyann membentuk bagian Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Departemen Kesehatan R.I. Yogyakarta, yang telah berkembang sam- pai saat ini. Tahun 1950 tercatat 475 dokter. 4.000 perawat termasuk bidan, dan 6 spesialis obstetri dan ginekologi. Pada Kongres POGI—Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia—yang pertama pada tanggal 26 sampai 31 Juli 1970 tercatat sekitar 115 spesialis kebidanan dan penyakit kandungan. Sementara pada tahun 1979 tercatat 8.000 dokter umum, 286 spesialis obstetri dan ginekologi, dan 16.888 bidan.
Pada tahun 1978 tercatat 90% sampai 92% persalinan dilakukan oleh dukun, 6% oleh bidan dan sekitar 1% oleh dokter. Untuk mengurangi penyulit telah dilakukan latihan dukun beranak sebanyak 110.000 orang, teiapi sebagian besar (80% sampai 85%) tidak lagi melakukan konsultasi dengan puskesmas maupun bidan yang pernah melatihnya.
Dalam pertemuan tentang kesejahteraan ibu di Istana Negara Jakarta yang dibuka oleh Bapak Presiden Socharto, beliau menaruh perhatian yang sangat besar tentang tingginya angka kematian ibu dan perinatal di Indonesia sehingga diharapkan upaya yang sungguh-sungguh untuk dapat mengatasi masalah tersebut. Pada World Con- gress of Human Reproduction di Nusa Dua Bali, Bapak Presiden Soeharto telah mencanangkan penempatan bidan sebanyak 50.000 orang sebagai upaya mendekat- kan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih dengan membangun pondok bersalin. Gagasan itu sangat mulia tetapi memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk dapat melatih sejumlah bidan yang akan ditempatkan di pedesaan sebagai pengganti dukun beranak.
Dengan dicanangkannya pemyataan tersebut diharapkan Ikatan Bidan Indonesia mampu melakukan antisipasi sehingga proses tersebut menjadi kenyataan dalam waktu singkat. Angka kematian ibu dan perinatal merupakan ukuran penting dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana suatu negara. Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu 390/100.000 persalinan hidup. Jika perkiraan persalinan di Indonesia sebesar 5.000.000 orang maka akan terdapat sekitar 19.500-20.000 kematian ibu atau kematian setiap 26-27 menit. Jumlah kematian perinatal sekitar 56/1000 atau sejumlah 28.000 orang atau setiap 18-20 menit sekali.
Karena tingginya angka kematian ibu dan perinatal di Indonesia (tertinggi di ASEAN), bidang pelayanan kebidanan masih memerlukan perhatian. Angka kemati an ibu dan perinatal yang tinggi sebagian besar akibat pertolongan persalinan dukun di seluruh Indonesia. Dukun beranak mcmang belum mampu diganti dalam waktu relatif singkat karena masih mendapat kepercayaan masyarakat. Kematian ibu dan perinatal mempunyai peluang yang sangat besar untuk dihindari.
Memperhatikan angka kematian ibu 500.000 per tahun dan kematian perinatal 10.000.000 per tahun di seluruh dunia, WHO dan UNICEF melaksanakan Kongres di Alma Ata 1978, Uni Sovyet, dan mencetuskan ide: Primary Health Care (Pelayanan Kesehatan Utama). Dengan tujuannya meningkatkan kesehatan masyarakat menuju Health for all by the year 2.000 (Sehat Untuk Semua pada Tahun 2000). Di Indonesia gagasan tersebut diterjemahkan dalam: Sistem Kesehatan Nasional. Kesejahteraan ibu (safe motherhood) merupakan upaya yang penting dalam pelak- sanaan "Pelayanan Kesehatan Utama" dengan mengikutsertakan partisipasi masyarakat, mendekatkan pelayanan di tengah masyarakat, dan meningkatkan mutu pelayanan.
Setelah memahami sejarah kebidanan di Indonesia di mana sekolah bidan dirintis oleh Prof. M. Toha (Pahlawan Bandung Selatan) di Cirebon dan R.S Dr. Soetomo Surabaya, maka kami mengusulkan dua nama dalam rapat POGI Jakarta yaitu Prof. M. Toha (Surabaya) dan Prof. Makalew (Ujungpandang) untuk diabadikan sebagai penghargaan kepada Ahli Kebidanan dan Penyakit Kandungan di Indonesia. Rapat memutuskan dan menetapkan "penghargaan M. Toha" bagi mereka yang dianggap berjasa dalam pengabdian masyarakat dan "penghargaan Makalew" bagi mereka yang dianggap mampu mengembangkan teknik kebidanan dan penyakit kandungan.
sumber: buku kebidanan