CV. BMI untuk Jadwal Pelatihan USG Anc & Abdomen 2019



untuk Dokter Umum & Bidan


Pelatihan USG ANC-ABDOMEN JANUARI-FEBRUARI 2019

Tag: 

pelatihan usg surabaya, pelatihan usg anc surabaya, pelatihan usg abdomen surabaya, pelatihan usg surabaya terbaru, pelatihan usg bidan surabaya, pelatihan usg dokter umum surabaya, pelatihan usg surabaya 2017, jadwal pelatihan usg surabaya, jadwal pelatihan usg surabya 2017, jadwal pelatihan usg surabaya terbaru, pelatihan kebidanan terbaru, pelatihan usg jogjakarta, pelatihan usg yogyakarta, pelatihan usg Abdomen jogjakarta, pelatihan usg abdomen yogyakarta, pelatihan usg anc jogjakarta, pelatihan anc yogyakarta, pelatihan usg bidan jogjakarta, pelatihan usg dokter umum jogjakarta, pelatihan kebidanan jogjakarta, pelatihan kebidanan yogyakarta, pelatihan dokter jogjakarta, pelatihan usg 2019, jadwal pelatihan usg 2019, pelatihan usg anc 2019, pelatihan usg abdomen 2019, pelatihan usg untuk dokter umum 2019, pelatihan usg untuk bidan 2019, pelatihan usg dasar 2019, pelatihan usg obstetri 2019, pelatihan usg bandung 2019, pelatihan usg solo 2019, pelatihan usg yogyakarta 2019, pelatihan usg jogjakarta 2019, pelatihan usg kebidanan 2019, kursus usg 2019

Kehamilan Usia Remaja

Kehamilan Usia Remaja

Masyarakat menghadapi kenyataan bahwa kehamilan pada usia remaja makin meningkat dan menjadi masalah. Terdapat dua faktor yang mendasari perilaku seks pada remaja. Pertama. harapan untuk kawin dalam usia yang relatif muda (20 tahun) dan keduay makin derasnya arus informasi yang dapat menimbulkan rangsangan seksual remaja terutama remaja di daerah perkotaan yang mendorong remaja untuk melaku- kan hubungan seks pranikah di mana pada akhirnya memberikan dampak pada ter- jadinya penyakit hubungan seks dan kehamilan di luar perkawinan pada remaja.

Pada akhirnya, masalah kehamilan remaja mempengaruhi diri remaja itu sendiri, dari masyarakat mereka mendapat cap telah berperilaku di luar norma dan nilai-nilai yang wajar, sehingga memberikan konflik bagi mereka seperti masalah putus sekolah, psikologis, ekonomi, dan masalah dengan keluarga serta masyarakat disekitamya.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang masalah di atas, berikut akan diuraikan secara rinci faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian.

1. Masalah kesehatan reproduksi.

Kesehatan reproduksi merupakan masalah penting untuk mendapatkan perhatian terutama di kalangan remaja. Remaja yang kelak akan menikah dan menjadi orang tua sebaiknya mempunyai kesehatan reproduksi yang prima, sehingga dapat menurunkan generasi sehat. Di kalangan remaja telah terjadi semacam revolusi hu bungan seksual yang menjurus ke arah liberalisasi yang dapat berakibat timbulnya berbagai penyakit hubungan seks yang merugikan alat reproduksi. Bila pada saatnya diperlukan untuk hamil normal, besar kemungkinan kesehatan reproduksi sudah tidak optimal dan dapat menimbulkan berbagai akibat samping kehamilan. Dengan demikian dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya sehingga dapat mempersiapkan diri untuk hamil dalam keadaan optimal.

2. Masalah psikologis pada kehamilan remaja.

Remaja yang hamil di luar nikah menghadapi berbagai masalah psikologis, yaitu rasa takut, kecewa, menyesal. dan rendah diri terhadap kehamilannya sehingga terjadi usaha untuk menghilangkan dengan jalan gugur kandung. Gugur kandung mempu nyai kerugian yang paling kecil bila dibandingkan dengan melanjutkan kehamilan. Syukur bila kehamilannya terjadi menjelang perkawinan sehingga segcra dilanjutkan dengan pernikahan. Keadaan akan makin rumit bila pemuda atau laki-laki yang menghamili malah tidak bertanggung jawab sehingga derita hanya ditanggung sendiri dan keluarga. Keluarga pun menghadapi masalah yang sulit di tengah masyarakat seolah-olah tidak mampu. memberikan pendidikan morffl kepada anak gadisnya.

Kehamilan di luar nikah masih tetap merupakan masalah besar di Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Masyarakat belum dapat menerima anak yang orang tuanya belum jelas. sehingga dianggap ar.ak haram atau hasil perzinahan. Walaupun misalnya perkawinan dapat dilangsungkan tetapi kemungkinan besar perkawinan tersebut tidak dapat bertahan lama karena dilakukan dalam keadaan kcsiapan mental dan jiwa yang belum matang.

3. Masalah sosial dan ekonomi keluarga.

Perkawinan yang dianggap dapat menyelesaikan masalah kehamilan remaja tidak lepas dari kemelut seperti:

  • Penghasilan yang terbatas sehingga kelangsungan hamilnya dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan
  • Puius sekolah, sehingga pendidikan menjadi terlantar
  • Putus kerja, karena berbagai alasan, sehingga menambah sulitnya masalah sosial ekonomi
  • Ketergantungan sosial ekonomi pada keluarga menimbulkan stres (tekanan batin)
  • Nilai gizi yang relatif rendah dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan.
Bila remaja memilih untuk mengasuh anaknya sendiri, masyarakat belum siap menerima kelahiran tanpa pernikahan. Berbeda halnya dengan negara maju seperti Amerika, masyarakatnya sudah dapat menerima kelahiran sebagai hasil hidup bersama.

4. Dampak kebidanan kehamilan remaja.

Penyulit pada kehamilan remaja, lebih tinggi dibandingkan "kurun waktu reproduksi sehat” antara umur 20 sampai 30 tahun. Keadaan ini disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun per- kembangan dan pertumbuhan janin. Keadaan tersebut akan makin menyulitkan bila ditambah dengan tekanan (stres) psikologis, sosial. ekonomi, sehingga memudahkan terjadi:

a. Keguguran.

Keguguran sebagian dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan kehamilan re maja yang tidak dikehendaki. Keguguran sengaja yang dilakukan oleh tenaga non- profesional dapat menimbulkan akibat samping yang serius seperti tingginya angka ke- matian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kcmandulan.

b. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan.

Kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dapat mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan cacat bawaan.

c. Mudah terjadi infeksi.

Keadaan gizi yang buruk. tingkat sosial ekonomi rendah. dan stres memudahkan ter jadi infeksi saat hamil. terlebih pada kala nifas. 

d. Anemia kehamilan.

e. Keracunan kehamilan (gestosis),

Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan terjadinya keracunan hamil, dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian yang serius karcna dapat me- nyebabkan kematian.

f. Kematian ibu yang tinggi.

Remaja yang stres akibat kehamilannya sering mengambil jalan pintas untuk mela- kukan gugur kandung oleh tenaga dukun. Angka kematian karcna gugur kandung yang dilakukan dukun cukup tinggi, tetapi angka pasti tidak diketahui. Kematian ibu terutama karena perdarahan dan infeksi. Pada kehamilan aterm, kematian terjadi ka- rena trias klasik yaitu: perdarahan; infeksi; dan gestosis (pre-eklampsia-eklampsia).

Dari uraian di atas timbul pertanyaan yang mendasar, bagaimana memecahkan masalah kehamilan remaja? Jawaban dari pertanyaan tersebut sangat sukar dan kom- pleks yang menyangkut berbagai segi kehidupan masyarakat, diantaranya:

1. Pengaruh globalisasi.

Arus informasi yang menyebabkan dunia makin sempit sangat memudahkan dan mendorong remaja mempunyai perilaku seks yang makin bebas. Keadaan ber- tambah sulit diatasi bila jumlah anak dalam suatu keluarga tidak terbatas sehing- ga kualitas pendidikan rohani kurang mendapat perhatian. Semua agama berpen- dapat bahwa kehamilan dan anak haruslah bersumber dari perkawinan yang syah menurut adat-agama dan bahkan hukum dan disaksikan masyarakat. Situasi de- mikian memerlukan sikap dan perilaku orangtua yang dapat dijadikan panutan dan suri tauladan bagi remaja.

2. Upaya memberikan pendidikan seks.

Sudah lama diperdengarkan tentang pendidikan seks pada remaja guna memberi kan pengetahuan tentang seks dan penyakit hubungan seks. Masalahnya siapakah yang patut memberikannya, dan bagaimana bentuk pendidikannya menyebabkan pendidikan seks menjadi terkatung-katung.

3. Keluarga berencana untuk remaja.

Kenyataan yang dihadapi dapat disimpulkan bahwa perilaku seks remaja men- jurus ke arah liberal, tidak dapat dibendung, dan hanya mungkin mengen- dalikannya sehingga penyebaran penyakit hubungan seks dan kehamilan di kalangan remaja dapat dibatasi. Dengan pertimbangan itu maka perlu dicanang- kan program keluarga berencana dikalangan remaja, digalakkan, sehingga pe- ngendalian perilaku seks dapat tercapai.

4.. Pelayanan gugur kandung.

Pelayanan gugur kandung remaja banyak dilakukan oleh lembaga tertentu atau dilakukan secara perorangan untuk menghilangkan keadaan dalam persimpangan jalan pada remaja. Melakukan gugur kandung merupakan tindakan yang paling rasional untuk menyelesaikan masalah hamil remaja dengan keuntungan:
  • Bebas dari stres hamil yang tidak dikehendaki
  • Bebas dari tekanan keluarga dan masyarakat
  • Masih dapat melanjutkan sekolah atau kerja
  • Bila dilakukan secara legeartis penyulit sangat minimal dan tidak meng- ganggu fungsi reproduksi
  • Biaya ringan, dibandingkan bila kehamilan diteruskan.
Kendatipun melaksanakan gugur kandung merupakan tindakan yang paling rasional dan menguntungkan kedua belah pihak, tetapi bukanlah dapat dilakukan begitu saja karena undang-undang kesehatan telah menetapkan petunjuk pclak- sanaannya dan disertai sangsi hukum. Dengan demikian melakukan gugur kandung bukanlah bebas dari tuntutan hukum dan tuntutan moral pelaku dan yang meminta dilakukannya. Perlu kiranya kita renungkan kembali bunyi "sumpah dokter:" Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.